









Ketika berjauhan
Masihku rasa hangat kasihmu ayah
Betapaku rindukan redup wajahmu
Hadir menemaniku
Terbayang ketenangan
Yang selalu kau pamerkan
Bagaikan tiada keresahan
Walau hatimu sering terluka
Tika diriku terlanjur kata
Tak pernah sekali kau tinggalkan
Diriku sendirian
Ketika ku dalam kedukaan
Kau mendakap penuh pengertian
Di saat diriku kehampaan
Kau setia mengajarku
Erti kekuatan
Terpancar kebanggaan
Dalam senyummu
Melihatku berjaya
Bilaku kegagalan
Tak kau biarkan
Aku terus kecewa
Dengan kata azimat
Engkau nyalakan semangat
Restu dan doa kau iringkan
Terbayang ketenangan
Yang selalu kau pamerkan
Bagaikan tiada keresahan
Tak dapatku bayangkan
Hidupku ayah
Tanpa engkau di sisi
Semua kasih sayang
Yang kau curahkan
Tersemat di hati
Lirik lagu ini mengingati diriku kepada ayah..semoga ayah sentiasa sihat. semoga ayah sentisa sihat. semoga ayah sentiasa dalam redhaNya...
ya Allah..berikanlah kesihatan untuk keluargaku..jagalah keluarga kami dari segala musibah dan bencana. Satukanlah hati2 kami dalam mencari redhaMu..Kuatkan perjuangan kami hingga titisan darah yang terakhir. semoga diriku mampu menjadi anak solehah. anak yang menjadi kebanggaan mak ayah...
Semoga pengorbanan mak n ayah tidak sia-sia. Doakan anakmu di sini. Moga diriku tsentiasa di jalan yg lurus.
Waalahu'alam


SELERO ANOK KLATE, TETAP MNJADI PILIHAN.^_^..
Tajuknya: Virus-virus Ukhuwah Pengarangnya: Abu 'Ashim Hisyam bin Abdul Qadir Uqdah Di sini adalah SEDIKIT mutiara-mutiara yang di dapati daripada karya HEBAT ini!
1. Ukhuwah adalah suatu NIKMAT yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat Islam. "Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu kerana nikmat itu, sebagai orang-orang yang bersaudara." (Ali 'Imran 3: 103)
2. Ukhuwah dan pertautan hati tak akan terikat tanpa perkenan izin oleh Allah SWT, hatta jika manusia membelanjakan segenap hartanya sekalipun.
"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Anfal 8:63)
3. Ganjaran orang-orang yang berukhuwah dan mencintai kerana Allah sangat besar. "Orang-orang yang saling mencintai demi keagungan-Ku akan diberikan padanya mimbar dari cahaya yang dicemburui oleh para Nabi dan syuhada.” (HR Ahmad)
4. Namun, Ukhuwah yang terbentuk itupun kadang-kadang 'bisa' TERUNGKAI tatkala diserang virus-virusnya! Baiklah, berikut adalah tips-tips untuk MEROSAKKAN ukhuwah yang dapati daripada buku tersebut (saya hanya senaraikan sebahagian);
Tibe2 teringatkan kat mak...jom relex tension dri exam jap..jom sama2 kita hayati sepi seorang ibu,,bertapa agungnya jasamu...sayang sngt2 kat mak..rindu tk terungkap lagi..cume titisan air mata je mengiringi laju pipiku......
################################################
Sepi adalah suatu waktu yg tentu tidak memberi rasa selesa. Apalagi kita tidak tahu bila ia akan berakhir. Dan seorang ibu adalah seorang yg mungkin sangat sering mengalami itu dalam hidupnya, meskipun mungkin kita sebagai anaknya tidak menyedari.
Harus kita akui, bahawa kita memang seringkali lupa akan keberadaan ibu dan ayah yg ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan, perhatian kita kpdnya lebih banyak dan lebih intensif. Buktinya, kita selalu risau akan khabar pasangan kita, khuatir adakah dia sudah makan atau belum, takut adakah dia akan bahagia disisi kita?
Tapi, adakah kita juga pernah merisaukan khabar dari ibu dan ayah kita? Risau, adakah mereka sudah makan atau belum? Khuatir, adakah ibu dan ayah kita sudah bahagia atau belum? Rasanya jarang kita praktikkan. Padahal mungkin sahaja dia dalam dakapan rasa sepi.
Di sini, mari sejenak kita cuba renungkan lagi. Bicara soal keadaan ibu dan ayah. Soal rasa sepi yg seringkali menerpa hidupnya. Saat kita masih ada kesempatan untuk membalas budi mereka, lakukan yg terbaik untuknya. Untuk ibu yg pengorbanannya tak terhingga. Agar jgn sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari.
Rasa Sepi Ketika Bersendiri Membesarkan Anak-anaknya
Ibu kita mungkin menjadi salah satu perempuan yg merasakan kesepian itu dalam mendidik anak-anaknya. Kita, dan beberapa beradik kita mungkin saja hari ini semua telah menjadi org-org berjaya; berpendidikan tinggi, berpangkat tinggi, atau mengurus sebuah bisnes besar.
Mari kita kenang sejenak rasa sepi ibu waktu itu, di mana terkadang dia harus menutupinya dengan sebuah ‘kebohongan’ untuk mengalihkan perhatian kita, agar ia tidak nampak lelah dan penat mengurus dan membesarkan kita.
Seorang anak yg telah dewasa menuliskan masa kecilnya tatkala bersama ibunya, yg tidak pernah kenal erti lelah bekerja untuk dirinya dan adik-adiknya. Saat itu mereka hidup dalam keadaan amat sederhana, bahkan utk makan saja, selalu kekurangan. Ketika sedang makan, ibunya seringkali memberikan bahagian nasinya utknya. Sambil memindahkan nasi ke pinggan anaknya, si ibu berkata, “Makanlah nak, aku tidak lapar.” Setelah dewasa, dia baru tersedar bahawa saat itu ibunya telah ‘berbohong’.
Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yg telah digariskan, ayah meninggalkan kami utk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yg malang harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada hari tanpa penderitaan. Hingga byk keluarga ibu yg menasihati ibu utk kembali menikah, tapi ibu yg menolaknya dengan mengatakan bahawa ia tidak perlu cinta, dan aku tahu saat itu ibu ‘berbohong’,” tulisnya, meneruskan ceritanya.
Perjuangan membesarkan anak adalah hari-hari yg penuh rasa sepi, dengan kesulitan yg terkadang belum boleh kita cerna saat itu, atau mungkin hari ini. Namun kita tidak pernah mencuba untuk mengingatnya, utk sekadar mengenang jasa manusia yg agung itu, yg telah memberikan segalanya utk kita.
Rasa sepi ketika ditinggalkan anak-anaknya merantau
setiap anak pada akhirnya akan menentukan pilihan hidupnya masing-masing. Dan kerana itu kita terpaksa meninggalkan kedua orang tua utk mencuba melepaskan diri dari ketergantungan kepada mereka. Ketika beranjak remaja atau dewasa, kita pergi merantau ke mana saja, utk tujuan apapun; menuntut ilmu, mencari rezeki, dan sebagainya.
Berawal dari sini, rasa sepi pun muncul dari relung hati seorang ibu. Anak yg sejak dari kecil diasuh penuh cinta, ditimang-timang dan dibesarkan, pergi jauh dari sisinya. Tak sanggup ia melarang, kerana hidup memang harus berubah dan berkembang. Ia lalu merelakan anaknya pergi merantau.
Ibu memang selalu merindukan kita. Sangat merindukan kita. Sampai bila-bila. Gambar wajah kita selalu hadir di benaknya, bermain-main di pelupuk matanya. Dia selalu melemparkan ingatannya ke masa-masa lalu yg indah ketika kita masih bersamanya, mengenang segala tingkah lucu kita yg menggores kesan indah di hatinya.
Rasa Sepi Ketika Anak-anaknya Telah Sukses dan Berdikari
Merantau mungkin awalnya hanya utk menimba ilmu dan pengalaman. Tapi seringkali di negeri orang, kita akhirnya menemukan kehidupan baru yg membuat kita harus bertahan. Di sana kita menemukan pekerjaan, profesi atau jabatan yg menjadikan kita tidak lagi bergantung kepada orang tua secara ekonomi. Atau mungkin kita telah menemukan pasangan hidup dan lalu membina keluarga sendiri, sehingga tidak lagi merasa perlu utk kembali dan hidup bersama orang tua di kampung halaman.
Keberhasilan dan kejayaan tentu selalu memberi perubahan, seperti perubahan pada keadaan kita yg sudah mampu hidup sendiri. Namun ibu yg mengantarkan kita kpd keberhasilan itu tetap dalam keadaannya yg dulu. Tak ada perubahan, kecuali fizikalnya yg kian lemah dan kulitnya yg semakin keriput. Sepi yg dulu dia rasakan, kini pun tidak jauh bezanya. Bahkan mungkin rasa sepi itu semakin bertambah, kerana kita semakin jarang mengunjunginya.
Rasa Sepi Ketika Anak Mengalami Kekeringan Spiritual
Kejayaan..tetapi tentu bukan hal itu yg paling membahagiakan seorang ibu. Selain kejayaan dan keberhasilan, seorang ibu sangatlah ingin melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang soleh, berbakti dan berakhlak mulia, hidup dgn rukun satu sama lain. Itulah yg paling membahagiakan orang tua. Tak ada yg paling menyenangkan hatinya dan mententeramkan jiwanya selain melihat mereka tumbuh dalam ketaatan kepada Allah swt. Terlebih lagi ketika mereka telah berada di usia yg semakin senja; selalu ada harapan agar anaknya kelak tetap menyenangkan setelah kepergiannya, dalam doa dan munajatnya, memohonkan ampun untuknya.
Rasa sepi yg paling dahsyat akan dirasakan seorang ibu ketika ia tak menemukan kesolehan pada diri anak-anaknya. Saat beribadah tak ada yg menemani. Ketika berdoa tidak ada yang mengaminkan. Di waktu sakit tak ada yg mendoakan. Akhir hidupnya dihantui rasa takut akan kegagalan menuai pahala dari anak-anaknya.
Mari sejenak kita merenung di sini, adakah perempuan yg telah melahirkan kita itu, juga hidup dalam rasa sepi kerana orientasi hidup yg berbeza. Jangan merasa puas dengan hanya melihat senyumnya ketika kita menghadiahkan sebuah barang mahal, sebab boleh jadi dia merindukan sesuatu yg lebih sederhana tapi lebih berharga dari hadiah mahal yg kita berikan.
Rasa Sepi Ketika Anak tak Memahami Bahasa Hati Seorang Ibu
Kerana kita dan orang tua ditakdirkan lahir di generasi yg berbeza, menghuni zaman yg tak serupa, mengalami perubahan-perubahan budaya yg tak sama, terkadang memunculkan perbezaan-perbezaan yg membuat komunikasi orang tua dengan anak tak sefaham, kehendak yg tak seiring, dan fikiran yg tak sejalan.
Sejenak , mari kita bicara tentang keadaan ibu. Merenungkan rasa sepi yg ia derita kerana kita seringkali tidak memahami keinginannya. Jangan biarkan hari-harinya yg tersisa hanya diisi dengan lamunan. Jangan persingkat usianya dengan membiarkan rasa rindu yg tak kunjung terubati. Sekali lagi, mari kita bicara tentang keadaan ini, agar suatu saat nanti kita tak menyesali sikap acuh kita; ketika rasa sepi telah merenggut segalanya.
“ Ya Tuhanku, ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa ayah ibuku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku masih kecil ”.. Amiin T_T

Ibu, kau permata hatiku
Kaulah yang selalu menemani diriku,
Tatkala gembira dan sedih mahupun suka duka,
Kaulah pengubat jiwa yang lara ini,
Ku selalu mendoakanmu ibu agar diberi rahmat Tuhan yang Esa.
Ibarat cahaya lilin yang terang,
Bagaikan bulan dan bintang menerangi malan yang indah,
Kau selalu memberi ketengang dalam diriku,
Marah engkau membuatkan aku sedar akan salah silapku,
Agar aku tidak ulangi buat kedua kalinya.
Di rumah kau memasak, membasuh, mengemas juga mencantikkan suasana,
Terima kasih ibu aku ucapkan,
Lalai dan lupaku kau selalu ingatkan,
Umpama guru mencurahkan ilmunya yang sentiasa mekar di hati ini,
Nasihatmu akan ku abadikan tak akan kulupa.
Berwawasan semangat yang kugambarkan dalam dirimu,
Membuatkan aku bangga miliki ibu sepertimu,
Bekerja dan mengajar anak bangsa didikanmu juga kau berikan padaku,
Aku bersyukur miliki ibu sepertimu,
Mengajar erti dewasa manusia dalam segala kekurangan.
Tidak mampu kubalas jasamu ibu,
Hanya Allah yang mampu membalas keringatmu masa lalu, kini dan akan datang,
Kusimpulkan kata buatmu ibu "Aku sayang ibu",
"Terima Kasih Ibu".
Harapan diriku ingin gembirakan dirimu,
Berjaya dalam apa yang kumahukan dengan doa tulus darimu,
Ibu, kaulah jantung hatiku,
Merasa dunia milik Tuhan ini dengan pelbagai dugaan dan cabaran,
Kau ingatkan, ingatkan dan teruskan ingatkan,
Jasamu ibu akan kusemat dalam lubuk hatiku yang dalam,
Agar aku menjadi insan yang tabah sepertimu,
"Terima Kasih Ibu."
Lisan atau lidah manusia memang gemar membuat janji, tetapi seringkali pula jiwa tidak ingin menepati janji yang dibuat oleh lisan tadi. Maka dengan itu jadilah janjinya bohong atau janji yang dimungkiri. Itu adalah tanda-tanda adanya sifat nifaq pada orang itu.
Allah telah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman tepatilah janji-janji." (Surah l-Maidah : 1)
Allah s.w.t. telah memberikan setinggi pujian ke atas Nabi Ismail a.s. di dalam kitab-Nya yang mulia dengan firman-Nya:
"Sesungguhnya dia (Ismail) adalah benar janjinya." (Surah Maryam : 54)
Apabila Saiyidina Abdullah bin Umar telah hampir menemui ajalnya, beliau berkata:
"Sebenarnya dulu ada seorang Quraisy telah meminang puteriku, dan aku telah mengikat suatu perjanjian untuk menikahkan puteriku itu kepadanya. Demi Allah aku tidak gemar menemui Tuhan, sedang sepertiga dari sifat nifaq itu ikut bersama-samaku. Oleh itu saksikanlah, bahawasanya aku telah menikahkan si Fulan itu dengan puteriku."
Diceritakan dari Abdullah bin Abul-Khansa’, katanya:
"Saya pernah mengikat janji dengan Rasulullah s.a.w. sebelum baginda diangkat menjadi nabi. Ada barang yang saya janjikan kepadanya akan saya bawa ke tempat yang telah dipersetujui, tetapi malangnya saya terlupa hari itu dan juga esoknya. Maka saya mendatanginya pada hari ketiga, dan saya dapati baginda masih tetap menunggu di tempatnya. Bila saya sampai, maka baginda berkata:
"Wahai pemuda! Engkau telah menyakiti aku dengan janjimu, sebab saya berada di sini menunggu sejak tiga hari lalu."
Ibnu Mas’ud r.a. pula bila berjanji, niscaya dia akan berkata: "InsyaAllah."
Cara beginilah yang lebih baik. Sesudah berkata InsyaAllah, jika ia memang faham bahawa menepati janji itu adalah wajib, maka hendaklah ia menepati janji itu, kecuali jika dihalangi oleh keuzuran. Akan tetapi jika ketika membuat janji itu, hatinya telah bertekad untuk memungkirinya.
Maka itulah yang dinamakan sifat nifaq.
Sabda Rasulullah s.a.w.:
"Tiga perkara, barangsiapa yang berada di dalamnya, maka ia dicap munafik, sekalipun ia puasa, sembahyang dan mengaku dirinya seorang Muslim, iaitu; bila berbicara ia bohong, bila berjanji ia mungkiri dan bila menerima amanah dia khianati."
Sabda Baginda yang lain:
"Empat perkara yang jika seseorang manusia ada di dalamnya, maka ia menjadi munafik, dan barangsiapa mempunyai salah satu dari sifat-sifat itu, samalah seperti ia mempunyai sifat kemunafikan, sehingga dia menjauhinya lagi: Jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mungkiri, jika membuat pengakuan dia belot dan jika menuntut dia curang."
Sifat-sifat ini hampir-hampir tertimpa ke atas orang yang ketika berjanji, dia siang-siang telah berazam untuk menyalahi janjinya ataupun yang memungkiri janji tanpa apa-apa keuzuran.
Adapun orang yang berazam untuk menepati janji, tiba-tiba tanpa disangka-sangka pula timbul suatu keuzuran yang menghalangnya dari memenuhi janjinya, maka orang itu tiadalah terkira seorang munafik meskipun pada lahirnya sifat kemunafikan itu berlaku atas dirinya.
Namun sebaik-baiknya, hendaklah dia cuba menghindarkan diri dari terkena sifat kemunafikan itu sebagaimana dia menjauhkan dirinya dari hakikat kemunafikan juga; iaitu apabila berjanji, cari jalan supaya keuzuran tidak akan berlaku tanpa ada sebab yang benar-benar dharurat.
Sahabat.. ketahuilah. Apabila dimungkiri, ia sakit dan pedih. Jadi hindarilah dari memungkiri janji.
petikan dari i luv islam...